KH. Muhammad Romli Tamim lahir pada tahun 1888 di Bangkalan Madura sebagai putra ketiga dari KH. Tamim Irsyad, seorang Kiai asal Bangkalan. Sejak kecil, beliau diboyong orang tuanya ke Peterongan, Jombang, untuk menuntut ilmu. Setelah menempuh pendidikan agama di keluarga, beliau belajar di Pesantren Tebuireng di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari dan melanjutkan studi di Mekkah pada 1919. Pada tahun 1939, beliau bersama keponakannya, KH. Dahlan Kholil, mendirikan Pondok Pesantren Darul Ulum, yang kemudian dikenal sebagai pusat pendidikan Islam di Jombang. KH. Romli Tamim juga terkenal sebagai pencipta wirid Istighatsah yang menjadi amalan populer di kalangan Nahdliyyin, yang tertuang dalam kitab “al-Istighatsah bi Hadrati Rabb al-Bariyyah” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa pada 1961. Beliau juga memiliki karomah, seperti saat memberikan kepalan tanah liat yang dapat meledak seperti bom dalam pertempuran melawan sekutu pada 1945, serta mampu hadir mengimami sholat jama’ah meski dalam kondisi tertahan oleh penjajah. KH. Romli wafat pada 6 April 1958, dan ia dikenang sebagai ulama yang berperan besar dalam perjuangan agama dan bangsa, meninggalkan warisan keilmuan yang mendalam bagi umat Islam.
Awal masuk pondok bagi saya adalah pengalaman yang penuh dengan perasaan campur aduk. Pada awalnya, saya merasa cemas dan ragu-ragu, karena meninggalkan rumah dan keluarga untuk tinggal jauh di pesantren. Namun, orang tua saya meyakinkan bahwa ini adalah langkah yang baik untuk masa depan saya, untuk belajar agama dan memperdalam ilmu. Ketika tiba di pondok pesantren, saya disambut dengan hangat oleh teman-teman santri dan para pengurus. Suasana di pondok sangat berbeda dengan kehidupan di rumah. Awalnya, saya merasa asing dengan rutinitas yang ketat—waktu untuk sholat, belajar, dan beristirahat sudah diatur sedemikian rupa. Tetapi, saya mulai merasa nyaman setelah beberapa hari beradaptasi. Saya mengenal banyak teman baru, saling membantu dalam belajar, dan berbagi pengalaman hidup. Pada malam pertama saya tidur di kamar asrama, saya terbangun dengan suara alarm yang mengingatkan saya untuk bangun sholat tahajud. Meski agak sulit pada awalnya, saya perlahan mulai merasa bahwa rutinita...

Komentar
Posting Komentar